PEMILU 2009: HARAPAN UNTUK SIAPA?
Lebih kurang satu tahun lagi rakyat Indonesia kembali merayakan pemilihan umum. Meskipun pemilu 2009 jatuh lebih kurang satu tahun lagi, namun nampaknya para pengurus dan kader-kader partai sudah mulai sibuk menyambut pesta demokrasi yang diadakan lima tahun sekali ini. Dimana-mana kita saksikan bendera-bendera partai sudah ramai berkibar. Kantor-kantor partai sampai ke tingkat kecamatan bahkan sampai ke tingkat ranting pun sudah mulai bermunculan.. Hal ini dapat dilihat dari berdirinya papan nama partai-partai di kantornya masing-masing. Dalam konteks Nasional sedang hangat-hangatnya wacana tentang calon presiden dan wakil presiden mendatang.
Ini adalah satu fenomena yang biasa di negeri kita. Bahwa kantor-kantor partai -terutama ditingkat kecamatan dan ranting- hanya berdiri satu tahun -atau kurang- sebelum pemilu dan menghilang setelah pemilu berlangsung. Kantor partai hanya sebagai formalitas dan melengkapi persyaratan agar partai tersebut lulus dari verifikasi.
Inilah fenomena perpolitikan kita yang amat berbeda dengan perpolitikan di luar negeri. Kita ambil contoh yang dekat saja, Malaysia. Berdasarkan pengamatan penulis, kantor-kantor partai di Malaysia tidak berdiri secara musiman (kapan mau pemilu saja), tetapi kantor partai selalu ada dan aktif sepanjang masa. Kantor partai bukan hanya sebagai formalitas apalagi sebagai pelengkap persyaratan verifikasi. Kantor partai di negeri jiran ini disamping sebagai pusat administrasi dan aktivitas partai, juga berfungsi sebagai pusat khidmat (pelayanan) masyarakat. Maksudnya kantor partai juga merupakan tempat menampung aspirasi masyarakat. Jadi bagi rakyat yang ingin menyampaikan aspirasi kepada para wakilnya (anggota DPR), cukup datang ke kantor partai tertentu.
Hal ini berlaku juga bagi partai yang tidak memperoleh kursi di DPR. Sebagai contoh partai-partai oposisi di Malaysia -seperti Partai Islam se-Malaysia (PAS), Partai Keadilan Rakyat (PKR), dan salah satu partai dari kalangan etnis cina (DAP)- walaupun didaaerah tertentu tidak ada kader partai tersebut yang duduk di DPR, mereka tetap berkhidmat kepada masyarakat dengan cara menampung aspirasi masyarakat dan selanjutnya mendesak pemerintah untuk segera menanggapi persoalan tersebut. Penulis bermimpi hal ini terjadi di negeri kita.
Jika dicermati fenomena perpolitikan di negeri kita sungguh bertolak belakang. Pengurus, dan calon legislatif dari partai tertentu hanya kenal dengan rakyat saat mereka mau menyambut pesta (pemilu). Setelah pemilu usai mereka tidak kenal lagi dengan rakyat. Bendera-bendera partai menghilang dan kantor-kantor partai pun raib entah kemana. Kalau masalah bendera memang tidak dibenarkan setelah habis masa kampanye, tapi kantor partai tidak disuruh bubar. Kalaupun ada kantor-kantor partai yang aktif, paling-paling hanya di tingkat pusat, propinsi dan di kabupaten/kota. Tetapi jarang kita lihat kantor-kantor tersebut dibuka untuk menampung aspirasi rakyat.
Begitu juga dengan calon legislatif yang berhasil duduk di kursi empuk DPR. Sebahagian besar mereka tidak kenal lagi dengan rakyat. Mereka hanya sibuk dengan rutinitas dan jarang turun langsung ke lapangan melihat permasalahan di daerah pemilihan mereka. Pada saat jadi caleg mereka sudi turun kedesa-desa bahkan ke daerah terisolir sekalipun demi membujuk rakyat dengan seribu janji dan mulut manis. Tapi setelah mereka duduk, jangankan mereka turba ke rakyat, ditemui saja sangat susah. Janji-janji yang diumbar-umbar masa kampanye hanya janji-janji kayak dalam lagu (Janji tinggal janji). Sebelum duduk, mereka berjanji berjuang untuk rakyat, tetapi setelah duduk, nyatanya, berjuang untuk kepentingan diri sendiri.
Sebahagian wakil rakyat tidak sadar bahwa jabatan yang di embannya adalah “wakil rakyat”. Menyuarakan aspirasi dan rintihan hati nurani rakyat adalah tugas utamanya. Bagaimana mungkin seorang wakil rakyat bisa menyampaikan suara rakyat sementara ia tidak kenal dengan rakyat? Tidak pernah berdialog dengan rakyat? Kalupun ada rakyat yang ingin menyampaikan aspirasinya rakyat tidak tahu harus disampaikan kepada siapa. Bahkan kadang-kadang rakyat tidak kenal siapa anggota DPR yang mewakili daerah mereka. Adalah langka sekali di negeri kita ada wakil rakyat yang mengadakan acara perjumpaan akbar dengan rakyat setelah pemilu seperti untuk menyampaikan ucapan terima kasih.
Berangkat dari fenomena diatas, dalam pandangan penulis, pemilu 2009 hanya disambut hangat dan gembira oleh kalangan aktivis politik. Sementara di kalangan rakyat, pemilu disambut dengan dingin kalau tidak dikatakan dengan putus asa. Pemilu 2009, baik pemilu legislatif maupun pemilu presiden dan wakil presiden, hanya memberikan harapan kepada para calon legislatif dan calon presiden dan wakil presiden. Bagi rakyat pemilu sudah kehilangan substansinya. Substansi pemilu untuk tegaknya demokrasi di negeri ini ternyata semakin jauh dari harapan. Tujuan pemilu yaitu memilih wakil rakyat serta presiden dan wakil presiden yang akan memimpin dan mengelola negeri yang kaya raya ini untuk kesejahteraan rakyat ternyata orientasinya sudah beralih. Pemilu tak obahnya transaksi bisnis yang menggiurkan bagi golongan the have untuk membeli kursi DPR. Pemilu bukan lagi untuk memperjuangkan kesejahteraan rakyat, tetapi kepentingan pribadi diatas kepentingan rakyat. Premis yang penulis katakan bukannya tanpa bukti.
Sebagaimana pepatah minang mengatakan sakali air gadang sakali tapian barubah. Setiap pemilu berlangsung rakyat mengharapkan perubahan kearah yang lebih baik. Namun, Sudah dua kali pemilu diadakan pada era reformasi, kita dengar rakyat semakin merintih. Tangisan rakyat semakin keras raungnya. Reformasi yang dulu membawa angin surga perubahan ternyata mengecewakan. Reformasi tidak bisa disalahkan. Yang salah adalah oknum-oknum pemimpin yang bercokol di pemerintahan pada era-Reformasi ini. Cobalah kita lihat, korupsi semakin menjadi-jadi. Ekonomi yang tidak stabil, mengakibatkan rakyat dihimpit oleh melangitnya harga kebutuhan pokok. Harga kebutuhan pokok tidak seimbang dengan pendapatan rakyat. Disaat Para pemimpin kita berlomba-lomba memperjuangkan kemewahan hidup sementara itu dimana-mana rakyat banyak yang kelaparan. Masih banyak rakyat hidup dibawah garis kemiskinan.
Maka dari itu tidak salah jika penulis mengatakan pemilu mendatang bukanlah harapan bagi rakyat. Bukanlah penulis mendukung sikap putus asa. Tetapi jika mental calon wakil rakyat dan pemimpin kita pada pemilu mendatang tidak berbeda dengan yang sebelumnya, maka rakyat tidak akan berharap banyak.
Kita tahu, mayoritas masyarakat kita adalah orang awam. Kalaupun mereka tidak puas dengan wakil rakyat dan pemimpin, Mereka tidak tahu hendak berbuat apa dan bagaimana cara menyalurkan aspirasi mereka. Paling-paling keluar ocehan di palanta lapau “jan dipiliah juo pemilu bisuak ko lai”. Atau jika rakyat sudah merasa terdesak, mereka melakukan demonstarsi. Penulis rasa, walaupun rakyat tidak pernah menyorakkan kepedihannya, para wakil rakyat dan pemimpin kita pasti mendengar rintihan dan tangisan hati nurani rakyat. Namun sebagian masih memakai ilmu basi (basipakak). Walau bagaimanapun, perasaan setiap manusia itu sama, menangis di kala duka dan bahagia dikala suka.
Tulisan ini bukanlah melakukan generalisasi tetapi memberikan penilaian secara umum. Tulisan ini merupakan bagian dari menyuarakan rintihan dan tangisan rakyat. Tentu saja tidak semua wakil rakyat dan pemimpin kita seperti itu. Tulisan ini juga tawassau bil haqq bagi calon wakil rakyat pada pemilu 2009 ini agar muhasabah diri sebelum mencalonkan diri. Yang kita harapkan pada pemilu mendatang adalah semoga wakil rakyat dan pemimpin kita adalah orang-orang yang berjiwa rakyat. Memegang jabatan bukan kerana ambisi pribadi dalam mengejar kemewahan duniawi. Tetapi berjuang dan mengabdi untuk rakyat. Memperjuangkan perubahan bangsa ini agar keluar dari multikrisis yang berlarut-larut ini. Semoga wakil rakyat dan pemimpin kita pada masa mendatang adalah insan yang betul-betul berjuang untuk rakyat dan peka terhadap suara dan rintihan hati nurani rakyat.
Kuala lumpur, 23 April 2008
Ridwan Arif, Tk. Bandaro, S.Fil.I.
Alumni Jurusan Aqidah Filsafat Fak. Ushuludddin IAIN IB Padang.
Mahasiswa Pasca Sarjana (S.2) Universiti Kebangsan Malaysia (UKM).
Dimuat pada harian Padang Ekspres pada 03 Mei 2008.
No comments:
Post a Comment